Loading...

Lampu Merah Penggunaan Antibiotik Pemacu Pertumbuhan Ternak

15:45 WIB | Wednesday, 08-November-2017 | Ternak, Komoditi | Penulis : Julianto

Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan atau growth promoter mulai 1 Januari 2018. Kebijakan itu mengacu pada amanat UU No. 41 tahun 2014 Jo. UU No 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan.

 

“Untuk mencegah penggunaan antibiotik yang berlebihan terhadap ternak, kami sudah siapkan regulasinya, dengan mengeluarkan Peraturan Menteri tentang daftar obat hewan yang dilarang,” kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita saat Media Briefing, di Jakarta, Rabu (8/11).

 

Untuk mengetahui kondisi di lapangan, ungkap Ketut, pihaknya telah memulai surveilans AMR (anti mikroba resisten) di Jawa Barat, Banten dan Jabodetabek. Termasuk, pilot survey penggunaan antimikroba di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan pada 360 peternak ayam daging.

 

“Kita akui laju pertumbuhan peternakan cukup pesat. Karena itu kita tingkatkan sosialisasi terhadap pelaku usaha peternakan. Kalau regulasi sudah banyak, sekarang ini bagaimana pengawasannya di lapangan,” tuturnya.

 

Ketut mengungkapkan, dalam industri peternakan, salah satu langkah yang dapat dilakukan mengendalikan penggunaan antimikroba yaitu dengan menerapkan praktik-praktik manajemen yang baik, sebagai aktifitas pencegahan untuk mengurangi risiko penyakit infeksi. “Selain memperbaiki manajemen pemeliharaan, peternak juga perlu menerapkan prinsip-prinsip animal welfare, biosecurity dan treacibility,” kata Ketut.

 

Sementara itu Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH, Syamsul Maarif mengatakan, resistensi antimikroba bisa terjadi pada hewan ternak seperti sapi, kambing dan ayam. Untuk mencegah kematian pada ternak, khususnya unggas, banyak peternak memberikan antibiotik sebelum panen. “Lebih parahnya kadang yang menggunakan antibiotik manusia untuk ternak,” katanya.

 

Faktor Meningkatnya Resistensi

 

Menurutnya ada beberapa faktor meningkatkan resistensi antimikroba pada ternak. Pertama, penggunaan antibiotik yang meningkat. Peternak dengan mudah memberikan antibiotik, bahkan tanpa resep. Kedua, penggunaan antibiotik untuk pencegahan ayam mati. Peternak biasanya menggunakan sebagai campuran pakan.

 

Ketiga, lemahnya penerapan biosecurity. Keempat, pengunaan antibiotik yang tidak tepat sasaran. Kelima, peternak juga menggunakan antibiotik untuk memacu pertumbuhan.

 

“Sesuai UU No 41 Tahun 2014, pemerintah telah meralang penggunaan AGP dan mewajibkan registrasi dan sertifikasi obat hewan. Pemerintah pusat dan daerah juga berkwajiban dalam pengawasan obat hewan,” kata Syamsul.

 

Guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya AMR, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, bekerjasama dengan FAO ECTAD, ReAct, Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), Center for Indonesian Veterinary Analytical Study (CIVAS), Pinsar Petelur Nasional (PPN), dan Fakultas Kedokteran Hewan di beberapa Universitas menggelar sejumlah kegiatan dalam perayaan Pekan Kesadaran Antibiotik.

 

Dalam kesempatan yang sama James Mc Grane, FAO ECTAD Team Leader berpendapat, saat mikroba menjadi kebal terhadap satu atau beberapa jenis antimikroba, infeksi yang dihasilkan mikroba akan sulit untuk disembuhkan. Bahkan dapat menyebabkan kematian.

 

“Mikroba yang kebal ini dapat menyebar ke lingkungan sekitar, ke rantai makanan dan ke manusia. Untuk itu, jika tidak diperlukan penggunaan antimikroba pada ternak sebaiknya tidak perlu digunakan,” ujarnya. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162