Loading...

Petani Bawang Putih Menunggu Uluran Tangan Pemerintah

17:21 WIB | Tuesday, 23-January-2018 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Indarto

 

 

Bawang putih, menjadi salah satu komoditi yang pemerintah targetkan untuk bisa mencapai swasembada pada Tahun 2019. Namun petani sebagai pelaksana di lapangan berharap pemerintah bukan sekadar memberikan bantuan benih, tapi juga sarana produksi lainnya hingga pendampingan.

 

Misalnya petani di Kelurahan Kalinsoro, Kec. Tawangmangu, Kab. Karanganyar meski sudah terbiasa menanam bawang putih, tapi berharap pemerintah memberikan pendampingan. “Selain bibit, kami juga butuh pupuk kandang, pupuk organik, pestisida/insektisia, pompa, dan pendampingan dari dinas terkait,” Ketua Gapoktan Mugi Rejeki, Kecamatan Tawangmangu, Bejo Supriyanto, kepada Sinar Tani.

 

Bejo menjelaskan, biasanya petani menanam bawang putih dengan sistem tumpangsari dengan bawang merah, dan wortel. Pada tahun 2017, ada sebanyak 12 hektar (ha) lahan bawang putih yang dikembangkan petani Desa Pancot, Kel. Kalisoro, Kec. Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar,  Jawa Tengah (Jateng).

 

Namun dalam pengembangan bawang putih di Kelurahan Kalisoro, Tawangmangu tak lepas dari dukungan pemerintah (Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar). Sebab, untuk menanam bawang putih dan dalam rangka mendukung swasembada bawang putih 2019, petani memerlukan benih yang sesuai geografis/daerah setempat.

 

Menurut Bejo, bantuan sarana dan prasarana produksi bawang putih di Kecamatan Tawangmangu pada tahun 2017 sudah mencukupi. Sehingga, petani yang tergabung dalam Gapoktan Mugi Rejeki bisa tanam bawang putih pada Mei 2017.

 

“Kami harapkan,  untuk bantuan sarana dan prasarana produksi bawang putih pada tahun 2018 disertai dengan monitoring yang lebih jelas. Apabila ada bantuan traktor perlu dilakukan pendampingan,” tutur Bejo.

 

Mengapa pengembangan bawang putih di Kecamatan Tawangmangu perlu dilakukan monitoring dan pendampingan yang lebih jelas? Menurut Bejo, karena pemerintah pada tahun 2018 mencanangkan pengembangan bawang putih di lahan seluas 200 ha. Pengembangan lahan di Kabupaten Karanganyar itu meliputi, empat kecamatan, yakni Kecamatan Ngargoyoso, Jenawi, Tawangmangu, dan Jatiyoso.  “Lahannya yang paling luas adalah di Kecamatan Ngargoyoso dan Jenawi. Sisanya di Tawangmangu dan Jatiytoso,” kata Bejo.

 

Petani ungkap Bejo, berharap bantuan benih bawang putih, karena harganya saat ini sudah menyentuh Rp 70 ribu/kg. Sementara itu, harga jual bawang putih rata-rata hanya Rp 25 ribu/kg (kering simpan dua minggu). Sedangkan harga bawang putih cabut basah Rp 20 ribu/kg.

 

“Harga bawang putih memang tinggi. Tapi, harga benihnya juga melambung. Kalau mau tanam bawang putih, di lahan seluas 1 ha, petani harus beli benih sebanyak 600 kg,” ujarnya.

 

Selain benih, lanjut Bejo, petani butuh pupuk kandang, organik, dan NPK. Paling tidak perlu pupuk kandang 20 ton/ha, 10 ton pupuk organik/ha, dan NPK sebanyak 250 kg/ha. Pestisida dan insektisida juga diperlukan sesuai kebutuhan. “Sebagian petani di sini juga butuh pompa air,” ujarnya. Idt/Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162