Loading...

Kawasan Perbatasan Incar Pasar Ekspor, Infrastruktur Pertanian Dibenahi

13:21 WIB | Wednesday, 23-August-2017 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Indarto

Infrastruktur pertanian di sejumlah kawasan perbatasan memang masih tertinggal. Pembangunan sektor pertanian di wilayah perbatasan juga relatif kompleks. Karena itu, pembangunan infrastruktur pertanian di wilayah tersebut harus dilakukan secara konprehenship.

 

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) sepanjang tahun 2017 juga komitmen menyiapkan dukungan sarana dan prasarana pertanian ke sejumlah wilayah perbatasan. Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Pending Dadih Permana mengungkapkan, komitmen Ditjen PSP untuk mendukung program pembangunan di wilayah perbatasan bernilai tambah tinggi melalui pengembangan sektor pertanian.

 

“Sejumlah langkah terobosan dilakukan pemerintah agar sektor pertanian bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi di wilayah perbatasan. Pembangunan infrastruktur seperti sarana dan prasarana pendukung pertanian di sejumlah daerah perbatasan terus kami perkuat,” kata Dadih Permana, di Jakarta, belum lama ini.

 

Dadih mengatakan, semenjak program pengembangan sektor pertanian di wilayah perbatasan menjadi program prioritas, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah bantuan sarana dan prasarana pertanian. Bantuan sarana dan prasarana pertanian seperti mesin traktor, rice transplanter, combine harvester dan bantuan lainnya. “Kita siapkan sarana dan prasarana pertaniannya, dan berkoordinasi dengan direktorat dan kementerian lainnya untuk implementasi di lapangan,” ujarnya.

 

Saat ini sudah ada beberapa kawasan atau wilayah perbatasan yang dikembangkan Kementan. Seperti di Kalimantan Barat (Kalbar), sudah diterapkan di tiga kabupaten. Di antaranya, untuk Kabupaten Sambas yang sudah ada pengembangan perdagangan beras ke Malaysia.

 

“Setelah kita kembangkan potensi pertaniannya dengan mekanisasi pertanian, maka petani Sambas sudah mampu ekspor beras melalui Aruk. Sedangkan di Sanggau melalui Entikong, dan untuk Kab. Kapuas Hulu, melalui Badau,” papar Dadih.

 

Tiga daerah pertanian yang dikembangkan di Kalbar tersebut mencakup 5.000 ha lahan pertanian untuk budidaya padi. Petani di Desa Semanget, Kec Entikong, Kab Sanggau, Kalbar akhir tahun 2016 sudah berhasil menanam padi beras organik seluas 1 hektar (ha) dari total 30 ha dengan menggunakan metode hazton. Padi organik tersebut lazim disebut dengan beras raja uncha dengan harga Rp 80.000/kg.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162