Loading...

Jagung di Perbatasan, FAO Tertarik Langkah RI

09:48 WIB | Thursday, 24-August-2017 | Nasional | Penulis : Julianto

Kebijakan Pemerintah Indonesia mengembangkan komoditas jagung di lahan marginal memberikan daya tarik tersendiri bagi Lembaga pangan dunia (Food Agriculture Organization/FAO).

 

Bahkan lembaga internasional tersebut akan bersinergi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menggarap lahan marginal di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan membangun lumbung pangan di wilayah perbatasan. Sinergi ini melalui Program Upsus yang didukung oleh model Conservation Agriculture yang tengah diimplementasi FAO untuk menjaga keberlanjutan kesuburan tanah.

 

“Konsultan FAO sudah datang ke Kementan, menyampaikan bahwa Program Upsus peningkatan produksi jagung di NTT sangat cocok disinergikan dengan model Conservation Agriculture yang dijalankan FAO,” kata Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur sekaligus Koordinator Program Upaya Khusus (UPSUS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ani Andayani di Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

Menurut Ani, FAO menilai program Upsus merupakan wadah yang tepat untuk mengimplementasikan model tersebut. Bahkan hasilnya dapat dilihat langsung dari pemanfaatan lahan marginal dan besarnya produksi jagung.

 

Seperti diketahui, FAO mempunyai program Model Consevation Agriculture yang bertujuan meningkatkan kesuburan tanah melalui optimasi kelembaban tanah, efisiensi pemanfaatan air tanah, penggunaan bahan organik untuk kesuburan tanah. Karena itu, menurut Ani, sinergi Kementan dengan FAO ini sangat positif untuk penerapan inovasi dan teknologi dalam Program Upsus peningkatan produksi jagung di NTT dan NTB. Apalagi dua wilayah tersebut lahan pertaniannya relatif kurang subur dan banyak memiliki lahan terlantar atau dikenal lahan marginal. 

 

Karena itu, menurut Ani, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBPPSDLP) Kementan yang bekerja sama langsung dengan FAO dapat mengsinergikan model Conservation Agriculture untuk pengkayaan inovasi dan teknologi yang dihasilkan. Dengan demikian, lahan marginal dapat dimanfaatkan sepenuhnya khususnya untuk menghasilkan jagung menuju swasembada.

 

Langkah Percepat Swasembada

 

Sementara itu Konsultan FAO, Joseph Viandrio mengatakan, sinergi model Conservation Agriculture dengan Program Upsus merupakan langkah yang tepat untuk mempercepat pencapaian swasembada jagung. Program Upsus, khususnya di NTT berhasil meningkatkan pengembangan produksi jagung.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162