Loading...

e-paper tabloid Sinar Tani - Langkah Menggapai Swasembada Bawang Putih

10:59 WIB | Tuesday, 23-January-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper tabloid Sinar Tani - Langkah Menggapai Swasembada Bawang Putih

 

Bangsa Indonesia pernah berjaya sebagai produsen bawang putih. Komoditas tersebut diibaratkan sebagai white diamond. Kejayaan itu terjadi sebelum tahun 1988. Namun kini pamornya redup.

 

Data Kementerian Pertanian, dari tahun 1996-2014 terjadi penurunan luas panen 9,75% per tahun dengan produksinya 10,75% per tahun. Jika tahun 1996 produksi bawang putih sebanyak 145.836 ton, maka tahun 2014 tinggal 16.892 ton. Bahkan sejak tahun 2014, hampir 95% kebutuhan bawang putih dipenuhi impor.

 

Untuk mengembalikan keja­yaan bawang putih, pemerintah lantas mengibarkan bendera swa­sembada. Selain menggerakkan lahan yang pernah ditanam petani, pemerintah juga mencoba lahan-lahan lain yang berpotensi untuk pengembangan bawang putih. Bukan hanya itu, pemerintah juga memberikan berbagai bantuan, baik sarana pertanian dan benih agar petani kembali tertarik me­nanam bawang putih. 

Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura, Spudnik Sujono mengatakan, kebutuhan bawang putih nasional sekitar 500 ribu ton/tahun. Sedangkan produksi dalam negeri baru mampu bisa memenuhi angka 20 ribu ton. Dengan begitu ada sebanyak 480 ribu ton bawang putih yang harus didatangkan dari luar negeri.

Untuk bisa mencapai swasem­bada yakni memproduksi 500 ribu ton, Spudnik mengatakan, diperlukan lahan seluas 73 ribu ha. Karena itu langkah utama yang pemerintah garap adalah dengan memperluas areal lahan bawang putih di beberapa daerah di Indonesia. 

Wilayah yang menjadi target pengembangan adalah Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Perluasan areal bawang putih ini menurut, Spudnik Soedjono dilakukan dengan dua cara, yakni swadaya (oleh petaninya sendiri) dan mitra dengan BUMN maupun swasta. 

“Sekarang sudah ada kebijakan bahwa importir bawang putih tidak hanya mengimpor, mereka harus menanam 5% bawang putih dalam negeri (dari kuota impornya). Maka­nya mereka banyak yang men­jalin kemitraan dengan petani bawang putih dalam negeri,” tuturnya.

 

Percepat Target

Spudnik menjelaskan, awalnya peta untuk mencapai swasembada bawang putih nasional pada tahun 2045. Tapi setelah adanya penyesuaian, ternyata Indonesia mampu mencapai swasembada di tahun 2019. “Dengan dimajukannya target menjadi 2019 atau 14 tahun lebih cepat, maka berbagai upaya terobosan dan percepatan mesti dilakukan,” katanya.

Dengan rencana kerja dimulai tahun 2016, yakni sebagai existing baseline (luas tanam 2.407 ha, produksi 18.200 ton dan impor 448 ribu ton). Lalu tahun 2017, pengembangan sentra, perbenihan, tata niaga dan pengaturan impor (luas tanam 5.726 ha, produksi 33.417 ton dan impor 437.133 ton). 

Di tahun 2018, yakni perbenihan dan ekspansi pengembangan kawasan (luas tanam 28.850 ha, produksi 106.484 ton dan impor 371.183 ton). “Di tahun 2019, target besar kita adalah swasembada bawang putih dengan luas tanam mencapai 73 ribu ha dengan produksi hampir 500 ribu ton, sehingga impor nol,” katanya.

Karena itu di awal tahun 2017, pemerintah mengeluarkan peraturan untuk impor bawang putih, yakni Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 30/2017. Di dalam peraturan ini yang paling nyata adalah pem­batasan kuota impor bawang putih serta adanya peratuaran bahwa importir wajib menanam 5% dari kuota impor bawang putih di Indo­nesia. 

Untuk mengembalikan ke­ja­ya­an tersebut, tahun 2017 peme­­rintah menganggarkan pe­­­ngem­bangan bawang putih seluas 3.350 ha dan tahun 2018 ditingkatkan menjadi 7.017 ha. Data menyebutkan, Tahun 1996-2016 terjadi penurunan luas panen rata-rata 9,75% per tahun dan produksinya menururn 10,75% per tahun. 

“Karena itu target utama untuk mengembalikan kejayaan bawang putih adalah perluasan areal lahan dengan menggunakan bibit unggul bawang putih yang mampu memproduksi di atas rata-rata,” tutur Spudnik.

 

Realisasi Pertanaman 

Sejak pemerintah membuat kebijakan baru, beberapa per­usahan atau importir bawang putih telah merealisasikan pertanaman bawang putih sebagai kompensasi jatah impor yang pemerintah berikan. Salah satunya pertanaman bawang putih di Lombok Timur (NTB).

Perusahaan tersebut yakni, PT. Pertani seluas 182 ha, PT. Buana Tunas Segera Subur (21,78 ha), PT. Mahkota Abadi Prima Jaya (28,56 ha), PT. Prima Nusa Lentera Agung (24 ha), PT. Citra Sentosa (8 ha), Agra Garlica Lestari (2 ha), dan Segar Cahaya Internasional seluas 0,4 ha. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162