Loading...

Bersama Kendalikan Ancaman Pandemik, Indonesia Ikuti Kongres One Health

14:50 WIB | Monday, 25-June-2018 | Ternak | Penulis : Gesha

Indonesia turut berpartisipasi dalam Seminar Internasional One Health

Pandemik global diperkirakan tengah mengancam jiwa manusia di seluruh dunia dan WHO sempat memperingatkan akan adanya satu penyakit yang bisa mengakibatkan 100 juta jiwa mengalami mati lemas. Untuk turut mengendalikan ancaman pandemik tersebut, Indonesia kembali berpartisipasi dalam kongres internasional ‘One Health’ kelima di Saskaton, Kanada pada tanggal 22 – 25 Juni 2018.

 

Kongres ini merupakan kegiatan tahunan yang mempertemukan praktisi, akademisi dan pemerintah dari seluruh dunia untuk mendiskusikan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam mengatasi ancaman pandemik dan berdampak pada kesehatan manusia, hewan serta lingkungan.

 

Melalui 2 poster berjudul  “Building multi-sectoral One Health emerging infectious disease and zoonosis surveillance and response capacity in Indonesia: so much more than a training exercise” dan “Antibiotics Use on Small and Medium Scale Broiler Farms in West Java, East Java and South Sulawesi Provinces, Indonesia”, Indonesia berbagi pengalaman dalam mencegah dan mengendalikan ancaman pandemik seperti Penyakit Infeksi Baru (PIB), zoonosis dan resistensi antimikroba (AMR).

 

“Kita menggunakan pendekatan One Health karena untuk mengatasi ancaman itu tidak bisa dilakukan hanya oleh satu sektor saja, namun harus melibatkan semua aspek kesehatan manusia, hewan dan lingkungan,” ujar Pebi Purwosuseno dari Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian di Saskaton, Kanada, Jumat (22/6).

 

Untuk diketahui, Indonesia merupakan salah satu hotspot untuk Penyakit Infeksi Baru (PIB) di Asia, yang ditularkan melalui hewan (zoonosis) seperti flu burung. Selama 11 tahun terakhir, tercatat sebanyak 167 orang meninggal dunia akibat flu burung, serta kerugian ekonomi yang nilainya tidak sedikit.

 

Sedangkan upaya pencegahan dan pengendalian PIB dan zoonosis melalui pendekatan ‘One Health’ tersebut, telah dilakukan pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya melalui program EPT2 bersama dengan FAO ECTAD Indonesia yang dibiayai oleh USAID.

 

“Jika dibandingkan negara lain, Indonesia termasuk selangkah di depan. Kami sudah mengimplementasikan ‘One Health’ dalam mencegah dan mengendalikan PIB dan zoonosis di empat wilayah proyek percontohan yaitu Bengkali (Riau), Ketapang (Kalimantan Barat), Boyolali (Jawa Tengah) dan Minahasa (Sulawesi Utara) dan menjadi materi dalam poster yang ditampilkan di pertemuan ‘One Health’ ini.” ujarnya.

 


Antibiotik Resisten

 

Poster lain yang menjadi perwakilan Indonesia adalah tentang kegiatan survei pola penggunaan antibiotik (Antimicrobial Use / AMU) pada peternakan ayam broiler di 3 provinsi utama sentra penghasil ayam broiler di Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

 

Menurut Pemrasaran poster yang merupakan perwakilan dari Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Ni Made Ria Isriyanthi, kegiatan survei ini merupakan bagian dari lima tujuan strategis rencana aksi global untuk mengendalikan Antimicrobial resistant (AMR), terutama di sektor kesehatan hewan.

 

“Survei AMU dilakukan untuk mendapatkan informasi berbasis bukti dari lapangan, yang diharapkan bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan atau regulasi. Tujuan akhirnya adalah melindungi kesehatan masyarakat dan mengurangi dampak dari AMR,” ujarnya.

 

Dalam dua tahun terakhir, AMR menjadi perbincangan serius di seluruh dunia. Jika tidak dikendalikan, diperkirakan pada tahun 2050 kematian akibat infeksi yang tidak bisa disembuhkan karena bakteri yang resisten mencapai 10 juta.

 

Sementara itu Chief Technical FAO ECTAD Indonesia, Luuk Schooman mengatakan, FAO memberi dukungan penuh kepada pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pertanian, untuk bisa berpartisipasi dalam kongres ‘One Health’.

 

Menurut Luuk, kegiatan ini bisa menjadi referensi bagi pemerintah dalam mencegah dan mengendalikan ancaman pandemik. “Indonesia bisa belajar dari para praktisi dan ahli dari seluruh dunia. Akan banyak hasil penelitian dan temuan yang dipresentasikan dan mungkin bisa diimplementasikan di Indonesia,” jelasnya.

 

Dalam pertemuan ‘One Health’ tahun ini, hadir sebagai pembicara utama yaitu pemenang Nobel bidang kesehatan asal Australia, Peter Doherty, untuk karyanya di bidang imunologi. (gsh)

 

 

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162